Podcast : Alifa Bercerita's Script (Spotify) - Founder of Mecca, Siti Hajar

Founder of Mecca, Siti Hajar



by: Alifa Rahmayanti

Halo, Assalamualaikum warohmatullahi wabarokatuh! Kembali lagi dengan Alifa Bercerita.

Apa Kabar semuanya? Semoga selalu dalam keadaan sehat ya!


Nah di episode kali ini kita bakal bahas soal sejarah dari tanah suci umat Islam. Yap betul, Kota Mekkah. Kota ini identiknya dengan apa sih? Coba, kalau kalian dengar kata Mekkah apa yang pertama kali terlintas? 


Tempat lahirnya Nabi Muhammad? Kota yang tidak pernah sepi? Air zam-zam? Dan pastinya kota yang selalu jadi tempat ibadah seluruh umat muslim. Yap semua jawaban itu benar!


Makkah Al Mukarramah, kota sederhana dengan tempat Ka’bah berdiri, rumah Allah yang mulia selajur dengan Baitul Makmur di langit ke tujuh. Dulu kota ini bukan apa-apa melainkan lembah tandus kosong yang tidak ditumbuhi tanaman, dan air saja tidak ditemukan ditempat ini. Lalu bagaimana bisa Makkah sekarang menjadi tempat yang sangat makmur? 


Seorang wanita lah dan anak bayinya yang mengubah lembah tandus ini menjadi sebuah peradaban dalam waktu singkat. Semua berawal dari istri Nabi Ibrahim yaitu siti Hajar, beliau adalah istri kedua Nabi Ibrahim setelah Sarah. 


Dikarenakan Siti Sarah yang semakin tua dan masih belum memiliki momongan dengan Nabi Ibrahim, maka Siti Sarah menyuruh budaknya yaitu Siti Hajar untuk dinikahkan dengan Nabi Ibrahim agar Nabi Ibrahim bisa memiliki anak. 


Lalu Nabi Ibrahim menyetujui dan menikahi Siti Hajar sebagai istri kedua. Tidak lama setelah menikah Nabi Ibrahim dikaruniai anak yang bernama Ismail bin Ibrahim dari Siti Hajar. Yang merupakan Nabi Allah juga. 


Suatu ketika Nabi Ibrahim meminta Siti Hajar untuk pergi bersamanya ke suatu tempat dan ditinggalkannya lah Siti Hajar beserta Nabi Ismail yang masih kecil di suatu daerah gersang dan tandus. 


Siti Hajar pun bingung, mengapa ia dan anaknya ditinggalkan di tempat seperti ini? Dan beliau bertanya kepada Nabi Ibrahim ’Kemana engkau akan pergi dan meninggalkan kami di padang pasir yang tidak ada manusia dan bahkan kehidupan ini? Apakah Allah yang memerintahkan kamu wahai suamiku?’’Siti Hajar bertanya kepada suaminya.


Nabi Ibrahim menoleh dan berkata kepada Istrinya “Iya” lalu melanjutkan perjalanannya. Lalu dengan penuh keyakinan Siti Hajar menjawab “Kalau begitu Allah pasti tidak akan membiarkan kami” 


Siti Hajar berdoa meminta perlindungan kepada Allah, sementara itu dari kejauhan Nabi Ibrahim pun mengangkat kedua tangannya dan berdoa dikutip dari Surat Ibrahim ayat 37 yaitu “Ya Tuhan kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati. Ya Tuhan kami (yang demikian itu) agar mereka mendirikan shalat, maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan beri rizkilah mereka dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur.’’


Siti Hajar pun hanya bisa pasrah, tetapi dengan ditemani anaknya yaitu Nabi Ismail. Yang memberikan ia kebahagiaan. Hajar pun lupa dengan kesedihannya dan semangat. Pada awalnya Siti Hajar tidak merasa kekurangan, tetapi tanpa terasa perbekalan hidup nya mulai habis dan air susunya pun sudah habis. Bayinya yaitu Nabi Ismail menangis, rewel terus menerus karena kelaparan. 


Ibunda Hajar mencari cara, melirik kesana kemari untuk mencari air. Siti Hajar bingung dan laria ke atas bukit dan melihat ke bawah. Ia melihat sebuah bukit lain yang kemudian dikenal dengan Shafa, tampak dekat. Lalu ia langsung lari menuju bukit itu barangkali ia dapat bertemu dengan seseorang atau mendapatkan makanan atau minuman. Tapi hasilnya nihil, ia tidak dapat apa-apa. 


Dari bukit Shafa, ia melihat bukit lainnya yaitu yang kemudian dikenal Marwa. Ia bergegas menuju kesana dan tidak mendapatkan apapun juga. Siti Hajar semakin bingung, tetapi tetap berusaha agar anaknya tidak kelaparan. Ia pun berusaha untuk bolak balik diantara dua bukit itu hingga tujuh kali. 


Oiya fun fact aja, sa’a dalam bahasa arab artinya berusaha. Dari kata inilah Sa’i diambil.  Setelah tujuh kali bolak-balik Shafa-Marwa. Siti Hajar kelelahan dan putus asa. Ia akhirnya jatuh karena kelelahan di samping bayinya. Ia pun berserah diri kepada Allah. Karena yang ia lihat selama ini adalah fatamorgana. 

Setelah itu ia kemudian bangun dan melihat ke bayinya yang mungkin sudah meninggal dunia. Namun, tidak. ‘’Aku tidak melihat isyarat kematian anakku,’’ katanya lirih.

Lalu Allah SWT telah mengutus Malaikat Jibril dan dengan kedua sayapnya menyentuh tanah, sehingga muncul mata air yang mengalirkan kehidupan. Siti Hajar pun bangkit lalu segera ia mengambil air itu dan meminumkannya kepada bayinya, Ismail. 

Kepada mata air itu, ia mengatakan, ‘’Zumi, zumi!’’ Air dan mata air itu kemudian dikenal sebagai Zam Zam, yang memberi kehidupan di tengah padang pasir tandus dan bukit bebatuan. Mekkah yang sangat maju sekarang berasal dari perempuan ini… MashaAllah.. 

Tidak lama setelah itu, datanglah kafilah dagang yaitu Suku Jurhum yang melakukan perjalanan menuju negeri Syam (Suriah). Suku Jurhum merupakan suku terbesar dari Yaman, yang didalamnya terdapat  orang-orang pintar dan sangat maju dalam bidang teknologi. Dalam perjalanannya mereka menuju negeri Syam, mereka perlu melewati lembah tandus itu, yaitu Mekkah Al Mukaromah. 

Lalu mereka melihat seekor burung terbang diatas lembah itu. Burung atau kumpulan burung adalah sebagai penanda bahwa adanya sumber air di sekitar daerah tersebut. Lalu mereka mengutus seseorang untuk mencari tahu apakah ada kemungkinan adanya mata air ditempat itu. 

Ternyata memang benar adanya, lalu sesampainya di sumber air Zam Zam tersebut. Dikarenakan Siti Hajar dan anaknya tinggal di dekat situ, maka suku Jurhum dengan sopan meminta izin untuk bisa tinggal di sekitar sumur zam zam tersebut. 

Mereka berkata kepada Hajar “Jika anda mengizinkan kami akan hidup bersama Anda. Tapi jika anda menolak, kami akan pergi. Air ini milikmu”

Hajar mengizinkan dan akhirnya mereka tinggal bersama-sama dekat sumur itu. Jadi kejadian ini terjadi di pagi hari ya, sebelum matahari terbenam telah dibangunnya satu komunitas masyarakat dan beberapa bangunan seperti rumah, peternakan, tempat penyaringan air dan beberapa tempat lain untuk membangun kota di lembah tandus tersebut. Yang semuanya dirancang dan dibangun oleh pasukan suku Jurhum. 

Ditengah pertumbuhan kota Mekkah yang cukup pesat karena adanya Suku Jurhum. Nabi Ismail pun tumbuh dan belajar banyak hal termasuk belajar bahasa Arab di daerah sekitar Baitul Atiq (Rumah Kemerdekaan). Oiya, Ka’bah ini sudah ada dari zaman Nabi Adam a.s karena Nabi Adam lah dan anaknya yaitu Nabi Syits yang membangun Ka’Bah. Tetapi disaat kejadian banjir besar terjadi pada zaman Nabi Nuh, Ka’bah pun hancur. 

Maka dari itu Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail lah yang membangun ulang ka’bah dan meninggikan pondasi ka’bah. Agar seluruh umat muslim bisa melakukan tawaf, berdoa dan sholat di area tersebut.  

Hari demi hari tahun demi tahun, jadilah tempat berkumpulnya penduduk dan menjadi sebuah kota yang sampai saat ini kita kenal dengan nama Mekkah. 

Dikarenakan hal ini lah, Mekkah disebut sebagai tanah suci atau Baitullah (Rumah Allah) yang sangat dijaga kesuciannya. Karena tidak sembarang orang bisa pergi ke mekkah, dan orang yang mendatangi mekkah perlu datang dalam keadaan suci dari segala keburukan. 

Ceritanya sebenarnya panjang banget sih.. Tapi ini kurang lebih sejarah singkat yang bisa kita pelajari bersama. 


Comments

Popular posts from this blog

Mencetak hafidzah-hafidzah sholehah dan berbakat, kenali lebih lanjut mengenai Rumah Quran At-Tayba!

Content Wrting Portfolio : Business Article

Tampil Cantik Tanpa Harus Sering Touch Up!